Ringkasan Polemik Nasab Sesama Orang Arab di Indonesia
Latar Belakang Sejarah Nasab Ba’alawi di Indonesia
Polemik soal nasab Ba’alawi di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Persoalan status sosial dan keturunan Sayid sudah mencuat sejak era Hindia Belanda, terutama pada dekade 1910-an hingga 1930-an. Isu ini mencuat seiring munculnya organisasi keagamaan seperti Jamiatul Khair dan Al-Irsyad, yang memiliki pandangan berbeda soal keistimewaan garis keturunan dalam Islam.
Awal Konflik: Peran Ahmad Surkati
Pada 1911, ulama asal Sudan, Ahmad Surkati, bergabung dengan Jamiatul Khair, organisasi keturunan Arab di Batavia. Ia membawa pemikiran Islam reformis dan kesetaraan, yang menantang pandangan tradisional kelompok Sayid (Alawiyyin).
Dalam pertemuan Jamiatul Khair di Solo (1913), Surkati menegaskan bahwa dalam Islam, tidak ada keistimewaan berdasarkan keturunan, kekayaan, atau status sosial. Pandangan ini ditentang keras oleh kelompok Sayid, yang merasa posisi sosial mereka terancam.
Lahirnya Al-Irsyad dan Konflik Berkepanjangan
Dikucilkan dari Jamiatul Khair, Surkati mendirikan Al-Irsyad pada 6 September 1914. Organisasi ini bersifat inklusif, menerima non-Arab dan pribumi. Namun, Sayid dilarang menjadi pengurus. Hal ini memperuncing konflik antara dua kubu: Sayid (Jamiatul Khair & Rabithah Alawiyah) dan non-Sayid (Al-Irsyad).
Isu Sensitif: Taqbil, Pernikahan, dan Gelar
Perselisihan meluas pada soal:
- Taqbil (mencium tangan Sayid): Al-Irsyad menolak praktik ini sebagai bentuk pengultusan.
- Pernikahan campuran: Al-Irsyad memperbolehkan Syarifah menikah dengan non-Sayid, sementara kubu Sayid menolaknya.
- Penggunaan gelar "Sayid" dan "Habib": Al-Irsyad menganggapnya sekadar sapaan, bukan bagian dari syariat.
Narasi Sosial: Kritik terhadap Praktik di Masyarakat
Al-Irsyad juga mengkritik bagaimana gelar Sayid digunakan untuk mendapat keistimewaan sosial, bahkan hingga anak-anak Sayid dianggap “keramat” dan diperlakukan istimewa di kampung-kampung, menciptakan kesenjangan antara mereka dan masyarakat pribumi.
Stigma dan Upaya Penghambatan Gerakan
Kubu Sayid menuduh Al-Irsyad sebagai simpatisan komunisme dan berusaha menghambat aktivitas mereka lewat jalur internasional, termasuk meminta Inggris di Singapura mencegah perjalanan anggota Al-Irsyad ke Hadramaut.
Dukungan Tokoh Nasional: Haji Agus Salim
Tokoh pergerakan Haji Agus Salim membela Al-Irsyad. Ia menyebut konflik ini sebagai pertarungan antara aristokrasi (Sayid) dan demokrasi (Al-Irsyad), dan menilai pandangan egaliter Al-Irsyad lebih sesuai dengan nilai Islam dan semangat zaman.
Kesimpulan
Polemik nasab Ba’alawi dan konflik antara Sayid dan Al-Irsyad adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan kesetaraan dalam Islam di Indonesia. Persoalan ini bukan hanya soal identitas keturunan, tapi juga menyangkut nilai keadilan, inklusivitas, dan pembaruan dalam kehidupan beragama.
Post a Comment